RSS

Pembelajaran KBK,, what is this ??

04 Apr
Pembelajaran KBK,, what is this ??

Ok,,, Salam Sejahtera buat semua yg baca tulisan ini,,

Ada yg tahu ga sih pembelajaran KBK iku makanan opo ??? Biasanya anak2 sekolahan pling sering denger tu, tp ngomng2 mereka tahu ga sih artinya. Jangan2 cm numpang lewat aja alias ga paham blas>> Ok,, dr pada pusing mending kita bahas bersama apa itu KaBeKa ??

Sistem KBK alias Kurikulum Berbasis Kompetensi ?????

Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Kurikulum berbasis kompetensi mulai diterapkan di Indonesia pada tahun pelajaran 2001/2002 dibeberapa sekolah SD, SMP, dan SMA yang ditunjuk oleh pemerintah dan atau atas inisiatif sekolah sendiri yang disebut mini piloting KBK di bawah koordinasi direktorat SMP/SMA dan pusat kurikulum.

Legalitas formal pelaksanaan KBK pada tingkat pendidikan dasar dan menengah belum ada karena tidak ada Permendiknas yang mengatur tentang hal itu. Meskipun demikian landasan hukum untuk penyelenggaraan KBK bisa mengacu pada :

1. Peraturan Pemerintah No. 25 tahun 2000 tentang Otonomi Daerah bidang pendidikan dan kebudayaan yaitu : pemerintah memiliki wewenang menetapkan: (1) standar kompetensi siswa dan warga belajar serta pengaturan kurikulum nasional dan penilaian hasil belajar secara nasional serta pedoman pelaksanaannya, dan (2) standar materi pelajaran pokok.

2. Undang-undang No. 2 tahun 1989 Sistem Pendidikan Nasional dan kemudian diganti dengan UU RI No. 20 tahun 2003 pada Bab X pasal 36 ayat: (1) Pengembangan kurikulum dilakukan dengan mengacu pada standar nasional pendidikan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional, (2) Kurikulum pada semua enjag dan jenis pendidikan dikembangkan dengan prinsip diversifikasii sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah, dan peserta didik (3) Kurikulum disusun sesuai dengan jenjang pendidikan dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia… dan pada pasal 38 ayat 91) Kerangka dasar dan struktur kurikulum pendidikan dasar dan menengah ditetapkan oleh pemerintah.

Eve Krakow (2005) mengemukakan bahwa pengajaran berbasis kompetensi adalah keseluruhan tentang pembelajaran aktif (active learning) dimana guru membantu siswa untuk belajar bagaimana belajar dari pada hanya mempelajari isi (learn how to learn rather than just cover content).

Lebih jauh Christine Gilbert sebagai chief inspector Ofsted pada dokumen visi 2020 dari Ofsted menyebutkan bahwa:

“Learning how to learn half a dozen times, as it describes the imperatives for developing the 21st-century curriculum. In the last decade, it seems that we have established the notion that an appreciation of the ‘how’ students learn is at least as important as ‘what’ they learn. The National Strategies at primary and secondary level are promoting learning competencies and the mantra for Every Child Matters includes enjoyment and engagement with learning as a key outcome”

Pendapat di atas menekankan bahwa pengembangan kurikulum di abad ke-21 lebih ditekankan pada bagaimana mengembangkan suatu konsep “learning how to learning”.

Pusat kurikulum, Balitbang Depdiknas (2002) mendefinisikan bahwa kurikulum berbasis kompetensi merupakan perangkat rencana dan pengaturan tentang kompetensi dan hasil belajar yang harus dicapai siswa, penilaian, kegiatan belajar mengajar, dan pemberdayaan sumber daya pendidikan dalam pengembangan kurikulum sekolah. Kurikulum ini berorientasi pada: (1) hasil dan dampak yang diharapkan muncul pada diri peserta didik melalui serangkaian pengalaman belajar yang bermakna, dan (2) keberagaman yang dapat diwujudkan sesuai dengan kebutuhannya.

Kurikulum berbasis kompetensi adalah kurikulum yang pada tahap perencanaan, terutama dalam tahap pengembangan ide akan dipengaruhi oleh kemungkinan-kemungkinan pendekatan, kompetensi dapat menjawab tantangan yang muncul. Artinya, pada waktu mengembangkan atau mengadopsi pemikiran kurikulum berbasis kompetensi maka pengembang kurikulum harus mengenal benar landasan filosofi, kekuatan dan kelemahan pendekatan kompetensi dalam menjawab tantangan, serta jangkauan validitas pendekatan tersebut ke masa depan. Harus diingat bahwa kompetensi bersifat terus berkembang sesuai dengan tuntutan dunia kerja atau dunia profesi maupun dunia ilmu (Suyanto, 2005)

Kurikulum berbasis kompetensi memuat standar kompetensi dan kompetensi dasar pada setiap mata pelajaran. Standar kompetensi diartikan sebagai kebulatan pengetahuan, keterampilari, sikap, dan tingkat penguasaan yang diharapkan dicapai dalam mempelajari suatu matapelajaran. Cakupan standar kompetensi standar isi (content standard) dan standar penampilan (performance standard). Kompetensi dasar, merupakan jabaran dari standar kompetensi, adalah pengetahuan, keterampilan dan sikap minimal yang harus dikuasai dan dapat diperagakan oleh siswa pada masing-masing standar kompetensi. Materi pokok atau materi pembelajaran, yaitu pokok suatu bahan kajian yang dapat berupa bidang ajar, isi, proses, keterampilam, serta konteks keilmuan suatu mata pelajaran. Sedangkan indikator pencapaian dimaksudkan adalah kemampuan-kemampuan yang lebih spesifik yang dapat dijadikan sebagai ukuran untuk menilai ketuntasan belajar.

Yang intinya adalah :

1. Menekankan pada ketercapaian kompetensi siswa, baik secara individual maupun klasikal

2. Berorientasi pada hasil belajar dan keberagaman

3. Penyampaian dalam pembelajaran menggunakan pendekatan dan metode yang bervariasi

4. Sumber belajar bukan hanya guru, tetapi juga sumber belajar yang lain yang memenuhi unsur edukasi

5. Penilaian menekankan pada proses dan hasil dalam upaya penguasaan atau pencapaian suatu kompetensi.

Bedakan dengan kurikulum tahun 1994, berikut ulasannya :

Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) Kurikulum 1994

PERSAMAAN

1. Pendidikan dasar 9 tahun 

2. Penekanan pada kemampuan Membaca, Menulis, dan Berhitung

3. Konsep-konsep dan materi pokok (esensial) pada setiap mata pelajaran untuk mencapai kompetensi

4. Adanya muatan lokal

5. Alokasi waktu setiap jam pelajaran tetap 45 menit untuk SMP/MTs dan SMA/MA/SMK

1. Pendidikan dasar 9 tahun 

2. Penekanan pada kemampuan Membaca, Menulis, dan Berhitung

3. Konsep-konsep dan materi pokok (esensial) pada setiap mata pelajaran untuk mencapai kompetensi

4. Adanya muatan lokal

5. Alokasi waktu setiap jam pelajaran tetap 45 menit untuk SMP/MTs dan SMA/MA/SMK

PERBEDAAN

1. Pemberdayaan sekolah dan daerah2. Memuat Standar Kompetensi 

3. Kegiatan pembiasaan perilaku terintegrasi dan terprogram

4. Pengenalan mata pelajaran TIK

5. Penilaian Berbasis Kelas (PBK)

6. Pendekatan tematik di kelas I dan II SD/MI untuk memperhatikan kelompok usia

7. Kesinambungan pemeringkatan kompetensi bahan kajian dari kelas I sampai kelas XII

1. Sentralistik2. Tidak memuat standar kompetensi 

3. Tidak ada kegiatan pembiasaan perilaku terintegrasi dan terprogram

4. belum ada mata pelajaran TIK

5. Meskipun sudah disarankan untuk melakukan PBK, kenyataannya masih didominasi penilaian pilihan ganda

6. Pendekatan tematik di kelas I dan II SD/MI hanya disarankan

7. Tidak ada kesinambungan pemeringkatan kompetensi bahan kajian dari kelas I sampai kelas XII

8. Diversifikasi: kurikulum layanan khusus dan standar internasional 8. Tidak ada diversifikasi: layanan khusus dan standar internasional
9. Silabus disusun oleh daerah dan atau sekolah sesuai dengan kebutuhan dan kemampuannya 9. Memberikan peluang pada guru/sekolah/daerah untuk mengembangkan potensinya dalam bentuk program penjabaran dan penyesuaian atau melakukan analisis materi pelajaran

Nah dibalik persamaan dan perbedaan diatas tentunya dapat kita simpulkan sendiri mana yang lebih efektif dan efisien penerapannya.

Namun pemahaman dari komptensi itu sendiri masih rancu di kalangan guru ataupun mahasiswa,, Terlebih lagi pada masalah evaluasinya dimana antara KBK dengan kurikulum yang lama sangatlah berbeda..

Namanya kompetensi itu, menurut dosenku n kebetulan juga q sepaham dengan beliau, bahwa yg namanya KBK itu penilaiannya ya ada 2 yaitu : kompeten dan tidak kompeten. Bukan malah pakai Range nilai A, B, C, D, E.. sebagai contoh dalam suatu test mengemudi mobil : ada orang yg bs nyetir mobil dg berbagai gaya tp ternyata dia tidak bisa belok, jadi cuma lurus saja. Nah dalam hal ini berarti orang itu dianggap tidak kompeten, karena walaupun bisa menguasai semua metode nyetir namun jika tidak bisa belok itu kan fatal…Jadi kita tidak bisa memberi nilai 80 atau 90 pada orang tersebut, karena masih belum bisa dikatakan mampu mengemudi dengan baik..

Namun apa boleh buat, untuk mengetahui sejauh mana siswa paham dengan apa yang kita ajarkan ya pakai nilai. So,, hal ini masih menjadi perdebatan sampai sekarang..

Hal ini terjadi karena guru, sebagai ujung tombak pelaksana kurikulum, kurang diberdayakan. Mereka mestinya diberi berbagai pelatihan, retraining, re-edukasi, dan semacamnya, agar memahami kurikulum yang baru. Kita lupa ketika membuat kurikulum baru, memperhatikan kesiapan guru untuk berubah dalam aspek pola pikirnya, filosofinya, dan komitmennya.

Implementasi KBK itu seperti Inovasi. Dalam sebuah inovasi kunci suksesnya terletak pada kemauan orang-orang pelaksana di lapangan untuk berubah. Tanpa perubahan orang pelaksana, mustahil sistem KBK dapat diberlakukan dengan baik. Kita jangan hanya menuntut anak didik kita untuk kreatif dan belajar mandiri, sementara kita sebagai pengajar di mampu memberikan pengantar/fasilitator yang baik. Kita cenderung masih menggunakan metode2 lama dalam mengajar, bahkan soal ujian pun terkadang kita hanya copy-paste soal terdahulu tanpa memperhatikan apakah materi yang kita ajarkan sesuai dengan soal yang kita berikan. Nah tentunya ini akan melebar, tidak sesuai dengan tujuan pembelajaran yang biasanya kita peroleh di awal kita mengajar..

Hal seperti ini dipicu karena sebenarnya semua orang, termasuk guru, pada hakikatnya tidak suka berubah tanpa ada upaya yang nyata dari inovator untuk mengubahnya. Keadaan umum seperti ini pernah diingatkan oleh Jack Welch, seorang Chief Executive Officer perusahaan raksasa kelas dunia, General Electric, yang digambarkan dalam kalimat: Change has no constituency, People like status quo, They like the way it was.

Oleh karena itu, demi suksesnya implementasi KBK, kita perlu mengajak para tenaga pengajar untuk berubah, mau mengadopsi inovasi ke dalam praktik pendidikan yang menjadi tanggung jawabnya.

Konsekuensinya guru harus dilatih bagaimana mempersiapkan semua model pendekatan baru dalam implementasi KBK seperti: pembuatan satuan pelajarannya, metode pembelajarannya, evaluasinya, alat bantunya, perubahan filosofinya, pergeseran paradigma interaksi pembelajaran dengan siswanya, dan sebagainya. Tanpa adanya persiapan yang baik dilihat dari aspek profesionalisme guru, sulit dibayangkan akan terjadinya keberhasilan KBK.

—Dalam KBK, pengajar harus selalu lebih fokus pada learning outcomes dari pada proses pembelajaran. Ini tidak berarti bahwa proses pembelajaran tidak penting, proses pembelajaran pasti penting, tetapi proses pembelajaran harus direncanakan dan diselenggarakan didasarkan atas tercapainya kompetensi.

Daftar Pustaka :

Mata kuliah desain instruksional pascasarjana UNS tahun 2011

Anonim, 2002. Pelaksanaan Kurikulum Berbasis Kompetensi. Pusat Kurikulum, Balitbang Depdiknas.

Anonim, 2003. Pelayanan Profesional Kurikulum 2004: Pengelolaan Kurikulum di Tingkat Sekolah. Depdiknas.

Association K.U. Leuven, 2007. Competence based curriculum design, www.kuleuven.ac.be

Doll, W.E. (1993). A Post-Modern Perspective on Curriculum. New York and London: Teachers College, Columbia University

 

 

Link terkait :

http://wijayalabs.wordpress.com/2008/06/15/membedah-kurikulum-berbasis-kompetensi/

About these ads
 
Leave a comment

Posted by on April 4, 2011 in Umum

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: