RSS

My short story

09 Mar

Kisahku bermula ketika saya praktek lapangan di salah satu RS daerah X, Jam menunjukkan pukul 7.00 wib. Saat itu dapat bagian shift di bangsal penyakit anak, yang letaknya tidak jauh dari pintu depan RS tersebut. Seperti biasa dan ternyata sudah menjadi rutinitas karyawan rumah sakit ini, bahwa setiap shift pagi dibebankan pada seluruh perawat pelaksana termasuk kami para praktikan untuk ikut berpartisipasi dalam membantu tugasnya CS, eitz..bukan Customer Service lho tapi Cleaning Service. Ok..anda benar, kami ditugaskan untuk ikut ngepel lantai bangsal. Hm,,,, kegiatan yang nguras tenaga dan nguras isi perut, padahal baru saja makan di warungnya bu’e.

Jam bangsal penyakit anak menunjukkan pukul 8.15, sedangkan jam saya menunjukkan pukul pukul 7.50.Hehe..mana yang benar ya. Mungkin karena salah ngatur atau mungkin sengaja dibuat seperti itu supaya jadwal ganti piketnya lebih cepat. Believed or not, itulah kabar yang saya dengar dari obrolan para perawat disitu. Selang beberapa menit dr.H datang dengan muka yang kurang sedap dipandang. Langsung satu-persatu dr.H mengobservasi pasien yang ada, mulai dari kelas VIP sampai kelas 3 serta pasien isolasi. Semua berjalan dengan lancar, beberapa pasien diijinkan pulang karena kondisi yang sudah membaik. Namun pada pasien isolasi inilah dr.H menunjukkan sikap yang tidak patut dicontoh bagi staf kesehatan lainnya. Sebut saja pasien isolasi itu An.X, dia didiagnosa hepatitis dengan hasil uji serologi menunjukkan Hbe AG positif dan HBs Ag positif. dr.H dengan tanpa basa-basi berkata di depan pasien yang saat itu juga didampingi ibunya.

dr.H : “aku ga mau periksa itu anak, biar dokter lain saja”

Perawat : tapi dok,,,,

dr.H : “pokoknya aku ga mau..” sambil berjalan meninggalkan bangsal.

Sangat disayangkan sekali dengan ilmu serta pengalaman yang dimiliki dokter tersebut bisa berkata seperti itu di depan pasien. Untungnya pasien berasal dari kalangan awam, sehingga tidak memperpanjang masalah dan cenderung hanya diam.

Mungkin inilah etika orang kita sekarang, hanya karena takut tertular penyakit sampai bersikap seperti itu. Bahkan beberapa bulan terakhir kejadian ini sering terjadi di beberapa daerah di indonesia seiring meningkatnya penderita HIV/AIDS. Sungguh ironis, padahal secara teori ilmu etika dan hukum tentu sudah diajarkan pada saat kuliah kedokteran. Namun kenyataanya hanya sekedar dijadikan teori semata tanpa ada aplikasinya di kehidupan sehari-hari. Padahal pasien datang ke rumah sakit dengan harapan bisa mendapatkan pelayanan yang baik dari para staf karyawan dan tentunya mendapat pengobatan yang tepat. Tapi malah dapat perlakuan seperti itu, sedangkan kita sebagai orang kesehatan pastinya tahu bahwa penyakit hepatitis tidaklah semudah itu menular. Dari beberapa jenis hepatitis memiliki cara penularan yang berbeda-beda dan banyak pencegahan yang bisa kita lakukan untuk mencegah penularan tersebut.

Huuufttt…….semoga nanti kita tidak seperti itu. “Kalimat harapan itulah menjadi obrolan terakhir saya bersama teman praktikan seusai dr.H pergi meninggalkan bangsal penyakit anak”.

 
1 Comment

Posted by on March 9, 2011 in My Story

 

One response to “My short story

  1. chika

    March 23, 2011 at 8:38 pm

    hahahahaah….jdi ingat wktu prktek dlu…
    ya bgtu lah jman skrag…pdhal ilmu yg qta dpt tuh bwt diaplikasikn sbaik mgkin,bkan bwt nunjukin arogansi…
    smoga qta ga kya gtu n org2 medis yg lainnya ga bskap layakny dr. tsbut…hrapan kdepan dunia medis smkin mningkatkn playanannya trutama trhdap wrga yg kurg mampu…

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: