RSS

Ono opo ning Kota Gede JOgja ??

18 Apr
Ono opo ning Kota Gede JOgja ??

Kotagede adalah nama sebuah kecamatan yang ada di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.  Tempat ini terkenal dengan sebutan “Kota Perak”. Soalnya, di sinilah pusat para perajin perak tinggal. Di sepanjang jalan utama Kotagede berjejer toko dan bengkel kerajinan perak beraneka ragam. Kerajinan perak Kotagede memang selalu menarik perhatian para wisatawan lokal dan mancanegara. Banyak toko perak yang sekaligus memiliki bengkel pembuatan kerajinan perak.

Eh, bengkel ini dibuka untuk siapa saja, kok. Siapa pun boleh melihat dan bertanya seputar pembuatan kerajinan perak. Tidak ada rahasia-rahasiaan! Nah, asyik, kan? Kita bisa bebas melihat, bertanya, bahkan mencoba membuat perak sendiri, eh, tentu saja dibantu sama ahlinya, dong. Kebebasan bertanya dan melihat-lihat ini menjadi salah satu kelebihan dan daya tarik Kotagede untuk dikunjungi oleh para wisatawan.

Tenang saja, mbak-mbak dan mas-masnya di sana ramah-ramah dan senang sekali membantu kita memahami cara membuat perak yang cantik dan bagus-bagus.

Tak Hanya Perak, terletak sekitar 10 kilometer di sebelah tenggara jantung kota Yogyakarta, wilayah itu sekarang terkenal dengan nama Kotagede yang merupakan sentra kerajinan perak di Yogyakarta. Menyimpan sekitar 170 bangunan kuno buatan tahun 1700 hingga 1930, “Kotagede tidak cukup disebut sebagai Kota Perak, tetapi Kota Tua (The Old Capital City)” menurut seorang budayawan Kotagede, Achmad Charris Zubair.

Memasuki Kotagede dari arah utara melalui Gedong Kuning, sebuah jalan kecil diapit bangunan klasik yang berjejer di kedua ruas jalan seakan menjadi pembuka eksotis bagi wisatawan setelah melewati gapura.

Semenjak memasuki wilayah Kotagede, para wisatawan sudah bisa menikmati berbagai kerajinan perak yang dijual di bagian depan rumah penduduk sekaligus galeri (berbentuk Joglo yang biasanya untuk menerima tamu) dengan jenis dan harga yang beraneka ragam.

Kerajinan perak sendiri merupakan budaya turun temurun. Pada awalnya kerajinan di Kotagede berupa emas, perak dan tembaga. Namun seiring waktu, kerajinan peraklah yang paling diminati. Sehingga para pengrajin lebih banyak memilih untuk mengolah perak hingga sekarang. Saat ini, kerajinan ini sudah diekspor ke manca negara terutama Eropa. Dan biasanya permintaan akan melonjak setiap akhir tahun.

Mampirlah ke salah satu galeri untuk melihat berbagai kerajinan, mulai dari perhiasan, benda pajangan atau alat makan dari perak yang dibuat dengan sentuhan artistik para pengukir perak Kotagede, senyuman dan sapaan hangat akan menjadi sambutan yang menyenangkan untuk mengawali perjalanan menelusuri Kotagede.

Makam Pendiri Kerajaan Mataram Kuno

Ke arah selatan perkampungan, terdapat sebuah pasar rakyat yang dikenal dengan sebutan Pasar Gede. Meski bangunannya hanya memakai arsitektur sederhana dan seadanya, pasar tradisional yang dibangun pada masa Panembahan Senopati telah menjadi salah satu pusat kegiatan ekonomi masyarakat mentawisan. Hal ini yang membuat Kotagede dikenal dengan nama Pasar Gede atau Sargede dulunya.

Sekitar 50 meter selatan Pasar Gede di jalan Masjid Besar, sebuah gapura dengan benteng panjang melindungi salah satu situs kejayaan Mataram tempo dulu yang masih terawat dengan baik, sebuah Petilasan Kraton Kotagede. Beberapa pohon beringin berjulur panjang yang menandakan usianya yang telah tua seolah menjadi penjaga tempat keramat tersebut. Melewati gapura kedua ada sebuah tembok tinggi sekitar dua meter dengan jalan di kedua sisinya menghalangi pandangan dari gapura ketiga yang menjadi jalan menuju kompleks Masjid Agung.

Di tengah kompleks terdapat Masjid pertama di Kotagede dikelilingi rumah para Abdi Dalem. Masjid tersebut dibangun oleh Sultan Agung bersama masyarakat setempat – yang waktu itu kebanyakan memeluk agama Hindu dan Budha – maka arsitekturnya pun banyak mengadopsi corak khas arsitektur Hindu dan Budha. Salah satunya adalah gapura masjid yang berukiran mirip vihara. Ukiran-ukiran kayu yang menghiasi hampir setiap sudut masjid juga bercorak gaya Hindu dan Budha. Hal ini menjadi keunikan tersendiri dari masjid ini. Di dalam Masjid juga terdapat sebuah mimbar yang berukiran unik, upeti dari Adipati Palembang kepada Sultan Agung.

Sebelah selatan Masjid terdapat komplek makam para Pendahulu Kerajaan Mataram serta kerabat keluarga kerajaan yang juga merupakan tempat tinggal Ki Ageng Pemanahan dulunya. Terdapat sebuah bangsal duda (sekarang menjadi koperasi) ketika melewati gapura pertama sebelum memasuki gapura kedua.

Melewati gapura kedua sebuah komplek menjadi pembatas sekaligus jalur penghubung menuju makam juga Sendang Saliran (tempat pemandian). Pada komplek ini terdapat kantor, gudang, bangsal pengapit lor dan bangsal pengapit kidul.

Di sebelah barat komplek terdapat sebuah gapura menuju komplek makam. Memasuki komplek ini, wisatawan diwajibkan memakai pakaian adat Jawa dan melaksanakan tahlilan (doa) sebelum membuka makam. Melewati sekitar 720 makam, wisatawan akan dihantar menuju sebuah bangunan utama yang menjadi tempat bersemayam Keluarga Besar Kerajaan. Di antaranya Nyai Ageng Nis dan P. Djoyo Prono yang merupakan eyang dari Panembahan Senopati, Ki Ageng Pemanahan (ayah dari Panembahan Senopati), Panembahan Senopati hingga Kyai Wonoboyo Mangir, menantu sekaligus musuh Panembahan Senopati yang makamnya setengah berada di luar bangunan menjadi keunikan tersendiri di makam ini. Konon kematian Kyai Ageng Mangir disebabkan kepalanya dibenturkan ke batu yang menjadi singgasana Panembahan Senopati oleh Panembahan sendiri. Batu itu sendiri masih bisa dilihat di sebelah selatan komplek Masjid sekitar 100 meter.

Menurut Pak Muji salah satu Abdi Dalem kepada RCM, pengunjung biasanya berdoa memohon restu dan keselamatan serta kesuksesan di setiap Makam Raja. Sementara itu di sebelah selatan makam terdapat tempat pemandian yang terbagi menjadi Sendang Kakung untuk pria dan Sendang Putri untuk wanita. “Menyegarkan diri di tempat ini bisa menjadi penyembuh beberapa penyakit serta memohonkan kesuksesan serta kesejahteraan” tambah Pak Muji.

Rumah Kalang

Setelah menziarahi makam, wisatawan bisa mengunjungi salah satu rumah kuno yang dibangun oleh almarhum Pawiro Suwarno pada 1920-an, yang waktu itu seorang pengusaha kaya di Kotagede. Rumah ini dikenal juga dengan sebutan Rumah Kalang. Orang Kalang merupakan pendatang yang diundang oleh Raja untuk menjadi tukang ukir perhiasan kerajaan.

Keunikan Rumah Kalang ini adalah adanya perpaduan unsur Jawa dan Eropa, yaitu joglo yang dijadikan rumah induk terletak di bagian belakang dan di depan bangunan model Eropa. Bangunan Eropa ini cenderung ke bentuk baroque, berikut corak corinthian dan doriq. Sedang pada bangunan joglonya, khususnya pendopo sudah termodifikasi menjadi tertutup, tidak terbuka seperti pendopo joglo rumah Jawa. Relief-relief dengan warna-warna hijau kuning, menunjukkan bukan lagi warna-warna Jawa lagi. Munculnya kaca-kaca warna warni yang menjadi mosaik penghubung antar pilar-pilar, menunjukkan joglo ini memang sudah menerima sentuhan lain.

 Masakan dan Makanan Khas

Berbicara soal santapan lezat, kurang lengkap rasanya jika belum mencicipi sate karang khas Kotagede. Bukan karena satenya sekeras karang sehingga dinamakan demikian, melainkan karena nama desa tempat Pak Prapto (penemu resep sate karang) menjual satenya adalah Desa Karang. Jangan khawatir bila mencicipinya, sate ini merupakan sate sapi manis dengan dua keunikan. Keunikan pertama pada tiga pilihan sambalnya, sambal kacang, sambal kecap atau saus-kocor. Yang dimaksud saus kocor, sambal yang mirip sambal rujak yang manis, asam dan encer. Keunikan kedua dari sate ini, penjual akan menyediakan beras kencur sebagai minuman pendamping Sate Karang. Sebuah perpaduan yang menyegarkan.

Sebelum pulang, jangan lupa membeli oleh-oleh di “kipo bu Djito“, menjual berbagai jenis makanan khas yg klasik termasuk kipo sendiri. Kipo terbuat dari tepung beras dan diisi dengan parutan kelapa yang dibumbui gula. Dibentuk seukuran jari dan dihidangkan dengan alas daun pisang..Hm,,nyam nyam….

Sumber :

http://kotagedesilver.com/artikel/read/Sejarah_Kotagede_Kota_Perak

 
Leave a comment

Posted by on April 18, 2011 in Info

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: