RSS

Uniknya bahasa di Jogja

24 Jun

Pernah datang ke Jogjakarta? Jika anda pernah datang atau berlibur atau malah tinggal di kota Jogjakarta maka anda akan mengerti bahwa di kota ini jumlah pendatangnya sangat banyak.

Bahkan mungkin jumlah pendatangnya sudah hampir sama dengan jumlah penduduk aslinya. Ada yang sedari sekolah dulu tinggal di Jogjakarta, kemudian dilanjutkan dengan kuliah dan karena sudah merasa nyaman dengan Jogja dilanjutkan lagi dengan kerja dan beranak-pinak di Jogja.

Jumlahnya yang seperti ini, ada banyak.  Saya salah satunya yang seperti ini. Ditambah lagi yang dulu pernah sekolah dan kuliah di Jogja kemudian ketika masuk masa pensiun, kembali dan menikmati masa pensiunnya di Jogjakarta.

Sebabnya karena anak-anaknya tinggal di Jogja. Kemudian punya banyak teman semasa kuliah dulu yang ada di Jogjakarta, orang tua saya salah satunya yang memilih menikmati masa pensiunnya di Jogjakarta.

Nggak tau ya kenapa kok rasanya nyaman sekali di kota ini. Menurut saya sih karena interaksi antara penduduknya masih terjalin dengan baik. Selalu masih ada rasa tepo seliro yang baik di antara penduduknya yang terdiri dari berbagai macam etnis dan agama.

Semuanya berbaur secara baik dan menciptakan keragaman sendiri yang menjadi ciri khas kota Jogjakarta.

Dari berbagai macam etnis dan agama yang tinggal di Jogjakarta tersebut menciptakan sebuah budaya baru yang dapat diafiliasi dengan baik dan dijadikan sebuah keaneka ragaman khas bagi kota tercinta yang nyaman ini.

Ada budayanya dan ada makanannya yang lama kelamaan mengikuti selera konsumen semakin lama semakin meninggalkan ciri khas manisnya. Tapi tentunya tidak semua, masih ada makanan yang masih tetap menjaga ciri khasnya yang berasa manis itu. Contohnya gudeg Jogja.

Ada juga bahasanya, tiap pendatang membawa sendiri tata cara bahasanya, tentunya Jogjakarta memberi warna yang berbeda bagi bahasa yang dibawa masuk ke kota kita tercinta ini.

Bahasa luar yang biasanya agak lebih bernada tinggi menjadi lebih kalem ketika diucapkan oleh orang-orang pendatang yang tinggal di kota Jogjakarta ini.

Begitu juga dengan bahasa jawa yang dipakai sehari hari, mulai menjadi bahasa jawa yang “nasionalis” karena bahasa Jawa (bahasa Jawa Tengah- bahasa Jawa Jogjakarta) itu mulai kemasukan unsur- unsur dari bahasa Jawa lain.

Bukan hanya bahasa jawa lain daerah saja yang memasukkan unsurnya ke bahasa jawa Jogjakarta, tapi juga bahasa daerah lain. Ada bahasa Kalimantan, Sumatra, Nusa Tenggara, Banyumasan/Ngapak dan banyak bahasa daerah lain.

Karena sudah banyak kemasukan unsur dari bahasa daerah lain, dan juga biasa diucapkan oleh lidah lidah dari luar daerah, apalagi lidah yang tidak terbiasa berucap dengan bahasa jawa.

Maka bahasa jawa di Jogjakarta menjadi “nasionalis”. Bahasa jawa yg rasanya sudah sangat “Indonesia”, bahasa Jawa yang sudah menjadi konsumsi lidah lidah yang bukan lidah jawa lagi. Bahasa Jawa yang sudah tidak medok lagi.

Ini salah satu ilustrasinya : “ Yo nek kalo gitu ora usah diurus maneh to, keangelan, ngko kita sendiri sing keno akibatnya…”. Sedikit Jawa sedikit Indonesia, malah kadang kadang kalo yang mengucapkan orang dari luar Jawa, logat medoknya hilang berganti dengan logat asli orang tersebut. Sangat unik bukan…

 
Leave a comment

Posted by on June 24, 2011 in Info

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: