RSS

Bab I tentang Gambaran tingkat kecemasan pasien hipertensi

26 Aug

BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Kebijakan pembangunan kesehatan pada saat ini seharusnya sudah diarahkan pada upaya pembinaan generasi bangsa yang sehat produktif dan tidak hanya sekedar menyembuhkan yang sakit. Pembangunan berkesinambungan seringkali diartikan terbatas pada sumber daya alam dan melupakan pembangunan sumber daya manusia. Sektor kesehatan ditantang untuk berperan lebih aktif untuk membina, membentuk dan membangun bangsa yang sehat. Bidang kesehatan di Indonesia untuk waktu yang lama senantiasa dikaitkan dengan peran pengobatan dan penyembuhan penyakit.

Tekanan mental atau kecemasan diakibatkan oleh kepedulian yang berlebihan akan masalah yang sedang dihadapi (nyata) ataupun yang dibayangkan mungkin terjadi. Kecemasan yang paling sering terjadi disebabkan karena penyakit, salah satunya hipertensi. Hipertensi merupakan penyakit yang menyebabkan masalah-masalah baru, seperti stroke, gagal jantung, ginjal dan pastinya semuanya berdampak terjadinya kematian. Sehingga perlu adanya pencegahan lebih dini agar hipertensi tidak menyebabkan permasalahan baru bagi pasien. Hal inilah yang membuat pasien dan keluarga cemas akan keadaan pasien (Sarkamo, 2008).

Kecemasan atau ansietas dalam diri pasien dan keluarganya selama pasien di rumah sakit, salah satunya karena khawatir dengan keadaan pasien. Keluarga akan mengalami cemas dan disorganisasi perasaan ketika anggota keluarganya mengalami sakit yang harus dirawat di rumah sakit. Pasien yang dirawat di Rumah sakit dalam waktu yang lama akan lebih membuat cemas. Hal ini karena mereka takut akan kematian, kecacatan atau biaya yang banyak. Pada umumnya pasien yang datang di unit perawatan kritis ini adalah dalam keadaan mendadak dan tidak direncanakan, hal ini yang menyebabkan keluarga dari pasien datang dengan wajah yang sarat dengan bermacam-macam stressor yaitu ketakutan akan kematian, ketidakpastian hasil, perubahan pola, kekhawatiran akan biaya perawatan, situasi dan keputusan antara hidup dan mati, rutinitas yang tidak beraturan, ketidakberdayaan untuk tetap atau selalu berada disamping orang yang disayangi. Sehubungan dengan peraturan kunjungan yang ketat, tidak terbiasa dengan perlengkapan atau lingkungan di unit perawatan kritis, personel atau staf di ruang perawatan, dan rutinitas ruangan. Semua stressor ini menyebabkan keluarga jatuh pada kondisi krisis dimana koping mekanisme yang digunakan menjadi tidak efektif dan perasaan menyerah atau apatis dan kecemasan akan mendominasi perilaku keluarga (Kaplan dan Sadock cit Andika, 2007).

Hipertensi merupakan masalah kesehatan di seluruh dunia, angka kematian akibat hipertensi semakin meningkat dari tahun ke tahun. Hipertensi dapat berkembang menjadi gagal jantung kronik sebesar 91%. Hal ini berarti kejadiannya tiga kali lebih besar daripada orang dengan tekanan darah normal. Di banyak negara saat ini, prevalensi hipertensi meningkat sejalan dengan perubahan gaya hidup seperti merokok, obesitas, inaktivitas fisik, dan stress psikososial. Hipertensi sudah menjadi masalah kesehatan masyarakat (public health problem) dan akan menjadi masalah yang lebih besar jika tidak ditanggulangi sejak dini (Renzy B, 2007).

Seluruh dunia hampir 1 miliar orang (sekitar seperempat dari seluruh populasi orang dewasa) menyandang tekanan darah tinggi. Jumlah ini cenderung meningkat. Di Inggris (UK), penyakit ini diperkirakan mengenai lebih dari 16 juta orang. Di Inggris (England), sebanyak 34% pria dan 30% wanita menyandang tekanan darah tinggi (di atas 140/90 mmHg) atau sedang mendapat pengobatan tekanan darah tinggi. Pada populasi usia lanjut, angka penyandang tekanan darah tinggi dialami oleh lebih dari separuh populasi orang berusia di atas 60 tahun (Anna P & Bryan W, 2007).

Hipertensi masih menjadi penyebab kematian nomor tiga setelah stroke, dan tuberkulosis. Kejadian prevalensi hipertensi di Indonesia mencapai 31,7% dari total penduduk dewasa. Prevalensi berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan 7,2%. Dari jumlah itu hanya sekitar 0,4% kasus yang meminum obat hipertensi untuk pengobatan. Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (Dirjen P2PL) Kementerian Kesehatan Tjandra Yoga Aditama menjelaskan, rendahnya penderita hipertensi berobat karena penyakit yang biasa disebut darah tinggi itu tidak menunjukan gejala atau tanda khas yang bisa dipakai sebagai peringatan dini (PdPersi, 2010).

Rasa cemas merupakan keadaan mental yang tidak enak berkenaan dengan sakit yang mengancam atau yang dibayangkan, ditandai oleh kekhawatiran, ketidakenakan dan perasaan tidak baik yang tidak dapat dihindari, disertai perasaan tidak berdaya karena menemui jalan buntu  dan ketidakmampuan untuk menemukan pemecahan masalah terhadap masalah yang dihadapi. Hipertensi sebagai penyakit yang menyebabkan berbagai penyakit lain dan sering disebut penyakit yang tidak bergejala, semakin membuat khawatir pasien dan keluarga. Terutama pada pasien dengan kondisi keuangan yang minim, tentu saja biaya rawat hipertensi yang tak sedikit akan terus menyelimuti pola pikir mereka (Hurlock cit triwidodo, 2005).

Hasil observasi data medikal record tahun 2010 di Rumah Sakit Hati Kudus Langgur didapatkan sebanyak 458 kasus hipertensi sepanjang tahun 2010. Data ini terus terjadi peningkatan pada 4 bulan terakhir, mulai dari bulan September 2010 sebanyak 24 pasien, bulan Oktober 2010 sebanyak 31 pasien, bulan November 2010 sebanyak 35 pasien dan bulan Desember sebanyak 42 pasien. Data pasien hipertensi tersebut sebagian besar terjadi pada umur antara 40 – 50 tahun dan jenis kelamin paling banyak terjadi pada laki-laki. Tingginya kasus hipertensi akan kian meningkat seiring gaya hidup yang tidak sehat, baik secara psikis maupun fisik. Hal ini membuat penulis tertarik untuk meneliti sejauh mana gambaran kecemasan yang terjadi pada pasien hipertensi yang dirawat di Rumah Sakit, mengingat hipertensi merupakan penyakit yang paling sering membuat cemas baik pasien maupun keluarga pasien karena takut akan komplikasi, biaya yang mahal, kematian, dan lainnya.

 

1.2  Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan, maka dapat dirumuskan masalah penelitian adalah gambaran tingkat kecemasan pasien hipertensi di Rumah Sakit Hati Kudus Langgur, Maluku.

 

1.3  Tujuan Penelitian

1.3.1 Tujuan Umum

Diketahuinya gambaran tingkat kecemasan pasien hipertensi yang dirawat di Rumah Sakit Hati Kudus Langgur.

1.3.2 Tujuan Khusus

  1. Diketahuinya tingkat kecemasan pasien hipertensi di Rumah Sakit Hati Kudus Langgur ditinjau dari umur.
  2. Diketahuinya tingkat kecemasan pasien hipertensi di Rumah Sakit Hati Kudus Langgur ditinjau dari pendidikan.
  3. Diketahuinya tingkat kecemasan pasien hipertensi di Rumah Sakit Hati Kudus Langgur ditinjau dari pekerjaan.

 

1.4  Manfaat Penelitian

1.4.1        Bagi Peneliti

Sebagai tambahan wawasan dan sebagai pengalaman peningkatan pengetahuan khususnya tentang kecemasan pasien hipertensi.

1.4.2        Bagi Instusi RS Hati Kudus Langgur

Sebagai bahan masukan dalam rangka peningkatan program pelayanan kesehatan bukan hanya pada pasien hipertensi, namun juga keluarga pasien yang mengalami kecemasan.

1.4.3        Bagi institusi pendidikan

Sebagai pengembangan ilmu pengetahuan dalam hal kecemasan pasien hipertensi.

1.4.4        Masyarakat

Memberikan informasi mengenai hubungan antara kecemasan pada pasien hipertensi, sehingga dapat menentukan cara mengatasi kecemasan tersebut.

1.4.5        Bagi peneliti lain

Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai kerangka acuan dan dikembangkan lebih lanjut.

1.5  Keaslian Penelitian

1.5.1        Sugiarti (2010), dengan judul faktor-faktor yang mempengaruhi kecemasan menghadapi menarche. Analisa data menggunakan regresi sederhana. Persamaan dalam penelitian ini adalah terletak pada variabel kecemasan. Perbedaannya pada penelitian ini meneliti gambaran kecemasan secara keseluruhan pada pasien hipertensi. Sedangkan pada penelitian sugiarti, meneliti tentang faktor-faktor yang mempengaruhi kecemasan.

1.5.2        Shinta A (2008), dengan judul gambaran tingkat kecemasan keluarga pasien stroke yang dirawat di Ruang Mawar RSUD Undata Palu. Jenis penelitian deskriptif korelatif dengan pendekatan cross sectional. Analisa data menggunakan prosentase yang disajikan dalam bentuk distribusi frekuensi. Persamaan dalam penelitian ini adalah variabelnya meneliti tentang kecemasan. Sedangkan perbedaannya pada penelitian ini pada tempat dan pasien yang diteliti yaitu stroke.

1.5.3        Dian Satya (2009), Hubungan komunikasi perawat dengan tingkat kecemasan keluarga pada pasien yang dirawat di unit perawatan kritis Rumkital DR. Ramelan Surabaya. Penelitian ini merupakan penelitian cross sectional terhadap komunikasi perawat dan tingkat kecemasan keluarga dengan menggunakan rancangan cross sectional, analisa data menggunakan uji statistik spearmen’s rho dengan derajat kemaknaan < 0,05. Populasi penelitian adalah keluarga pasien yang di unit perawatan kritis Rumkital Dr. Ramelan Surabaya yang berjumlah 24 orang.

by :  mr.yudyud

 
Leave a comment

Posted by on August 26, 2012 in My Story

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: