RSS

ASKEP DM

26 Jul

I. TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Dasar
1. Definisi
Diabetes Mellitus (DM) adalah penyakit metabolik yang kebanyakan herediter, demham tanda – tanda hiperglikemia dan glukosuria, disertai dengan atau tidak adanya gejala klinik akut ataupun kronik, sebagai akibat dari kuranganya insulin efektif di dalam tubuh, gangguan primer terletak pada metabolisme karbohidrat yang biasanya disertai juga gangguan metabolisme lemak dan protein (Askandar, 2000).
Gangren adalah proses atau keadaan yang ditandai dengan adanya jaringan mati atau nekrosis, namun secara mikrobiologis adalah proses nekrosis yang disebabkan oleh infeksi. (Askandar, 2001).
Gangren Kaki Diabetik adalah luka pada kaki yang merah kehitam-hitaman dan berbau busuk akibat sumbatan yang terjadi di pembuluh darah sedang atau besar di tungkai (Askandar, 2001).
2. Anatomi Fisiologi
Pankreas merupakan sekumpulan kelenjar yang panjangnya kira – kira 15 cm, lebar 5 cm, mulai dari duodenum sampai ke limpa dan beratnya rata – rata 60 – 90 gram. Terbentang pada vertebrata lumbalis 1 dan 2 di belakang lambung.
Pankreas merupakan kelenjar endokrin terbesar yang terdapat di dalam tubuh baik hewan maupun manusia. Bagian depan (kepala) kelenjar pankreas terletak pada lekukan yang dibentuk oleh duodenum dan bagian pilorus dari lambung. Bagian badan yang merupakan bagian utama dari organ ini merentang ke arah limpa dengan bagian ekornya menyentuh atau terletak pada alat ini. Dari segi perkembangan embriologis, kelenjar pankreas terbentuk dari epitel yang berasal dari lapisan epitel yang membentuk usus.
Pankreas terdiri dari dua jaringan utama, yaitu :
(1). Asini sekresi getah pencernaan ke dalam duodenum.
(2). Pulau Langerhans yang tidak tidak mengeluarkan sekretnya keluar, tetapi menyekresi insulin dan glukagon langsung ke darah.
Pulau – pulau Langerhans yang menjadi sistem endokrinologis dari
pankreas tersebar di seluruh pankreas dengan berat hanya 1 – 3 % dari berat total pankreas. Pulau langerhans berbentuk ovoid dengan besar masing-masing pulau berbeda. Besar pulau langerhans yang terkecil adalah 50 , sedangkan yang terbesar 300 , terbanyak adalah yang besarnya 100 – 225 . Jumlah semua pulau langerhans di pankreas diperkirakan antara 1 – 2 juta.
Pulau langerhans manusia, mengandung tiga jenis sel utama, yaitu :
(1). Sel – sel A ( alpha ), jumlahnya sekitar 20 – 40 % ; memproduksi glikagon yang manjadi faktor hiperglikemik, suatu hormon yang mempunyai “ anti insulin like activity “.
(2). Sel – sel B ( betha ), jumlahnya sekitar 60 – 80 % , membuat insulin.
(3). Sel – sel D ( delta ), jumlahnya sekitar 5 – 15 %, membuat somatostatin.
Masing – masing sel tersebut, dapat dibedakan berdasarkan struktur dan sifat pewarnaan. Di bawah mikroskop pulau-pulau langerhans ini nampak berwarna pucat dan banyak mengandung pembuluh darah kapiler. Pada penderita DM, sel beha sering ada tetapi berbeda dengan sel beta yang normal dimana sel beta tidak menunjukkan reaksi pewarnaan untuk insulin sehingga dianggap tidak berfungsi.
Insulin merupakan protein kecil dengan berat molekul 5808 untuk insulin manusia. Molekul insulin terdiri dari dua rantai polipeptida yang tidak sama, yaitu rantai A dan B. Kedua rantai ini dihubungkan oleh dua jembatan ( perangkai ), yang terdiri dari disulfida. Rantai A terdiri dari 21 asam amino dan rantai B terdiri dari 30 asam amino. Insulin dapat larut pada pH 4 – 7 dengan titik isoelektrik pada 5,3. Sebelum insulin dapat berfungsi, ia harus berikatan dengan protein reseptor yang besar di dalam membrana sel.

Insulin di sintesis sel beta pankreas dari proinsulin dan di simpan dalam butiran berselaput yang berasal dari kompleks Golgi. Pengaturan sekresi insulin dipengaruhi efek umpan balik kadar glukosa darah pada pankreas. Bila kadar glukosa darah meningkat diatas 100 mg/100ml darah, sekresi insulin meningkat cepat. Bila kadar glukosa normal atau rendah, produksi insulin akan menurun.
Selain kadar glukosa darah, faktor lain seperti asam amino, asam lemak, dan hormon gastrointestina merangsang sekresi insulin dalam derajat berbeda-beda. Fungsi metabolisme utama insulin untuk meningkatkan kecepatan transport glukosa melalui membran sel ke jaringan terutama sel – sel otot, fibroblas dan sel lemak.

3. Etiologi
a. Diabetes Melitus
DM mempunyai etiologi yang heterogen, dimana berbagai lesi dapat menyebabkan insufisiensi insulin, tetapi determinan genetik biasanya memegang peranan penting pada mayoritas DM. Faktor lain yang dianggap sebagai kemungkinan etiologi DM yaitu :
1. Kelainan sel beta pankreas, berkisar dari hilangnya sel beta sampai kegagalan sel beta melepas insulin.
2. Faktor – faktor lingkungan yang mengubah fungsi sel beta, antara lain agen yang dapat menimbulkan infeksi, diet dimana pemasukan karbohidrat dan gula yang diproses secara berlebihan, obesitas dan kehamilan.
3. Gangguan sistem imunitas. Sistem ini dapat dilakukan oleh autoimunitas yang disertai pembentukan sel – sel antibodi antipankreatik dan mengakibatkan kerusakan sel – sel penyekresi insulin, kemudian peningkatan kepekaan sel beta oleh virus.
4. Kelainan insulin. Pada pasien obesitas, terjadi gangguan kepekaan jaringan terhadap insulin akibat kurangnya reseptor insulin yang terdapat pada membran sel yang responsir terhadap insulin.
b. Gangren Kaki Diabetik
Faktor – faktor yang berpengaruh atas terjadinya gangren kaki diabetik dibagi menjadi endogen dan faktor eksogen.
Faktor endogen : a. Genetik, metabolik
b. Angiopati diabetik
c. Neuropati diabetik
Faktor eksogen : a. Trauma
b. Infeksi
c. Obat
4. Patofisiologis
a. Diabetes Melitus
Sebagian besar gambaran patologik dari DM dapat dihubungkan dengan salah satu efek utama akibat kurangnya insulin berikut:
1. Berkurangnya pemakaian glukosa oleh sel – sel tubuh yang mengakibatkan naiknya konsentrasi glukosa darah setinggi 300 – 1200 mg/dl.
2. Peningkatan mobilisasi lemak dari daerah penyimpanan lemak yang menyebabkan terjadinya metabolisme lemak yang abnormal disertai dengan endapan kolestrol pada dinding pembuluh darah.
3. Berkurangnya protein dalam jaringan tubuh.
Pasien – pasien yang mengalami defisiensi insulin tidak dapat mempertahankan kadar glukosa plasma puasa yang normal atau toleransi sesudah makan. Pada hiperglikemia yng parah yang melebihi ambang ginjal normal ( konsentrasi glukosa darah sebesar 160 – 180 mg/100 ml ), akan timbul glikosuria karena tubulus – tubulus renalis tidak dapat menyerap kembali semua glukosa. Glukosuria ini akan mengakibatkan diuresis osmotik yang menyebabkan poliuri disertai kehilangan sodium, klorida, potasium, dan pospat. Adanya poliuri menyebabkan dehidrasi dan timbul polidipsi. Akibat glukosa yang keluar bersama urine maka pasien akan mengalami keseimbangan protein negatif dan berat badan menurun serta cenderung terjadi polifagi. Akibat yang lain adalah astenia atau kekurangan energi sehingga pasien menjadi cepat telah dan mengantuk yang disebabkan oleh berkurangnya atau hilangnya protein tubuh dan juga berkurangnya penggunaan karbohidrat untuk energi.
Hiperglikemia yang lama akan menyebabkan arterosklerosis, penebalan membran basalis dan perubahan pada saraf perifer. Ini akan memudahkan terjadinya gangren.
b. Gangren Kaki Diabetik
Ada dua teori utama mengenai terjadinya komplikasi kronik DM akibat hiperglikemia, yaitu teori sorbitol dan teori glikosilasi.
1. Teori Sorbitol
Hiperglikemia akan menyebabkan penumpukan kadar glukosa pada sel dan jaringan tertentu dan dapat mentransport glukosa tanpa insulin. Glukosa yang berlebihan ini tidak akan termetabolisasi habis secara normal melalui glikolisis, tetapi sebagian dengan perantaraan enzim aldose reduktase akan diubah menjadi sorbitol. Sorbitol akan tertumpuk dalam sel / jaringan tersebut dan menyebabkan kerusakan dan perubahan fungsi.
2. Teori Glikosilasi
Akibat hiperglikemia akan menyebabkan terjadinya glikosilasi pada semua protein, terutama yang mengandung senyawa lisin. Terjadinya proses glikosilasi pada protein membran basal dapat menjelaskan semua komplikasi baik makro maupun mikro vaskular.
Terjadinya Kaki Diabetik (KD) sendiri disebabkan oleh faktor – faktor disebutkan dalam etiologi. Faktor utama yang berperan timbulnya KD adalah angiopati, neuropati dan infeksi. Neuropati merupakan faktor penting untuk terjadinya KD. Adanya neuropati perifer akan menyebabkan terjadinya gangguan sensorik maupun motorik. Gangguan sensorik akan menyebabkan hilang atau menurunnya sensasi nyeri pada kaki, sehingga akan mengalami trauma tanpa terasa yang mengakibatkan terjadinya ulkus pada kaki gangguan motorik juga akan mengakibatkan terjadinya atrofi otot kaki, sehingga merubah titik tumpu yang menyebabkan ulsetrasi pada kaki pasien. Angiopati akan menyebabkan terganggunya aliran darah ke kaki. Apabila sumbatan darah terjadi pada pembuluh darah yang lebih besar maka penderita akan merasa sakit tungkainya sesudah ia berjalan pada jarak tertentu. Manifestasi gangguan pembuluh darah yang lain dapat berupa : ujung kaki terasa dingin, nyeri kaki di malam hari, denyut arteri hilang, kaki menjadi pucat bila dinaikkan. Adanya angiopati tersebut akan menyebabkan terjadinya penurunan asupan nutrisi, oksigen ( zat asam ) serta antibiotika sehingga menyebabkan luka sulit sembuh ( Levin,1993). Infeksi sering merupakan komplikasi yang menyertai KD akibat berkurangnya aliran darah atau neuropati, sehingga faktor angiopati dan infeksi berpengaruh terhdap penyembuhan atau pengobatan dari KD.
5. Klasifikasi
Wagner ( 1983 ) membagi gangren kaki diabetik menjadi enam tingkatan, yaitu :
Derajat 0 : Tidak ada lesi terbuka, kulit masih utuh dengan kemungkinan
disertai kelainan bentuk kaki seperti “ claw,callus “.
Derajat I : Ulkus superfisial terbatas pada kulit.
Derajat II : Ulkus dalam menembus tendon dan tulang.
Derajat III : Abses dalam, dengan atau tanpa osteomielitis.
Derajat IV : Gangren jari kaki atau bagian distal kaki dengan atau tanpa selulitis.
Derajat V : Gangren seluruh kaki atau sebagian tungkai.
Sedangkan Brand (1986) dan Ward (1987) membagi gangren kaki menjadi dua golongan :
1. Kaki Diabetik akibat Iskemia ( KDI )
Disebabkan penurunan aliran darah ke tungkai akibat adanya makroangiopati ( arterosklerosis ) dari pembuluh darah besar ditungkai, terutama di daerah betis.
Gambaran klinis KDI :
– Penderita mengeluh nyeri waktu istirahat.
– Pada perabaan terasa dingin.
– Pulsasi pembuluh darah kurang kuat.
– Didapatkan ulkus sampai gangren.
2. Kaki Diabetik akibat Neuropati ( KDN )
Terjadi kerusakan syaraf somatik dan otonomik, tidak ada gangguan dari sirkulasi. Klinis di jumpai kaki yang kering, hangat, kesemutan, mati rasa, oedem kaki, dengan pulsasi pembuluh darah kaki teraba baik.

ASUHAN KEPERAWATAN INDIVIDU DALAM KELUARGA
PADA KLIEN DENGAN DIABETES MELLITUS

II. IDENTITAS
a. Identitas Kepala Keluarga
Nama : Tn. S
Umur : 57 Tahun
Jenis Kelamin : Laki – Laki
Pendidikan Terakhir : SMA
Pekerjaan : Jual kue
Alamat : Jl. Nias No.60, Ponorogo
b. Identitas Klien
Nama : Ny. S
Umur : 50 Tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Suku Bangsa : Jawa
Bahasa : Jawa
Pendidikan Terakhir : SMA
Pekerjaan : Jual kue
Alamat : Jl. Nias No.60, Ponorogo

III. GENOGRAM

IV. DIAGNOSA MEDIS
Diabetes Mellitus

V. RIWAYAT PENYAKIT DAHULU
Penyakit yang pernah diderita : Sejak 6 tahun yang lalu klien menderita penyakit DM
Penyakit masa anak-anak : Tidak ada
Prosedur pembedahan terakhir : Tidak pernah
Obat-obatan yang biasa dikonsumsi : Glbenclamide
(Jenis, rute, reaksi)
Alergi : Tidak alergi obat-obatan
Alat bantu yang digunakan : Tidak memakai alat bantu

VI. RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG
Keluhan Utama : Pusing
Tanggal Mulai Sakit : ± seminggu yang lalu klien merasakan pusing
Proses terjadinya sakit : Tiba-tiba
Faktor pencetus : Klien kecapean
Upaya yang telah dilakukan : Klien memeriksakan ke puskesmas

VII. RIWAYAT KESEHATAN KELUARGA
Tidak ada anggota keluarga yang menderita penyakit DM seperti klien dan penyakit kronis (Hipertensi, kanker, alergi, gout, penyakit jantung) dan kecenderungan lingkungan (TBC, kusta).

VIII. RIWAYAT KESEHATAN LINGKUNGAN
Saat pengkajian rumah klien dalam keadaan bersih. Rumah klien terbagi antara ruang tamu, ruang makan, dan ruang dapur ataupun kamar mandi.

IX. POLA AKTIVITAS SEHARI – HARI
1. Makan Dan Minum
 Kebiasaan makan sebelum sakit
 frekuensi : 3x / hari
 jenis : Nasi sayur ,lauk.
 Pantangan : Tidak ada
 Makanan yang diskai : Semua makanan disukai
 Makanan yang tidak disukai : Tidak ada
 Alergi makanan : Makan-makanan yang terlalu merangsang lambung (panas, pedas)
 Kebiasaan minum sebelum sakit
 frekuensi : ±8 x/hari (@ 250 cc/gls belimbing)
 jenis : Air putih
 Pantangan : Tidak ada
 Minuman yang disukai : Air putih
 Minuman yang tidak disukai : Tidak ada
 Alergi minuman : Tidak

 Kebiasaan makan saat sakit
 Frekuensi : 3x / hari (sedikit-sedikit tapi sering)
 Jenis : Nasi, sayur (sup wortel, kentang buncis), lauk (tempe, telur)
 Pantangan : Ayam
 Makanan yang diskai : Semua makanan disukai
 Makanan yang tidak disukai : Tidak ada
 Alergi makanan : Makan-makanan yang terlalu merangsang lambung (panas, pedas)

 Kebiasaan minum saat sakit
 frekuensi : ±12x/hari (@ 250 cc/gls belimbing)
 jenis : Air putih
 Pantangan : Minuman yang manis
 Minuman yang diskai : Air putih
 Minuman yang tidak disukai : Tidak ada
 Alergi minuman : Kopi (kembung)

2. Eliminasi
 Sebelum sakit
Klien BAB 1x/ hari dengan konsistensi padat dan BAK 4–5x/ hari dengan warna kuning jernih dan tidak ada keluhan saat BAK maupun BAB
 Saat sakit
Pemenuhan mampu mandiri dengan frekuensi BAK 5-6 x/ hari warna kuning jernih bau khas urine (amoniak), tidak menggunakan kateter. Klien mengalami kesulitan BAB frekuensi 1 x/3hari dan menggunakan obat pencahar

3. Kebersihan
 Sebelum sakit
klien mandi 2x/ hari dan ganti pakaian 1x/ hari keramas 1-2 x/ minggu, sikat gigi 2x/hari memotong kuku 1x/bulan. Semua tindakan dilakukan secara mandiri.
 Saat sakit
Klien mandi 2x/ hari dan ganti pakaian 1x/ hari keramas 1-2 x/ minggu, sikat gigi 2x/hari memotong kuku 1x/bulan. Semua tindakan dilakukan secara mandiri.

4. Pola Istirahat Dan Aktivitas
 Sebelum sakit
klien tidak pernah tidur siang
klien tidur malam kurang lebih 6 – 7 jam / hari mulai pukul 22.00 – 04.00 WIB
aktivitas 9 – 10 jam sebagai tukang becak
 Saat sakit
klien tidur siang kurang lebih1 – 2 jam/ hari mulai pukul 14.00 – 16.00 WIB
klien tidur malam kurang lebih 5 – 6 jam / hari mulai pukul 22.00 – 04.00 WIB
aktivitas 9 – 10 jam sebagai penjual kue

5. Kebiasan merokok / alkohol / jamu
Klien tidak pernah minum alkohol / jamu dan merokok

X. PENGKAJIAN PER SYSTEM
1. Pernafasan (Breathing)
 inspeksi
bentuk thorak simetris, terlihat gerakan naik turun dada (retraksi interkostal), tak batuk. RR: 20 x/menit, pola nafas reguler, tidak memakai alat bantu pernapasan.
 Auskultasi
Tidak ada bunyi napas tambahan, vesikular disemua lapang paru, broncial diatas manubrium sterni, bronkhio vesikular di ICS 2
 palpasi
terasa vocal vremitus pada lapang paru, tidak ada pembesaran paru
 perkusi
terdengar bunyi sonor pada lapang paru

2. Kardiovaskuler (Blood)
 inspeksi
tampak pulsasi didaerah ICS V mid clavicula sinistra
 palpasi
terdapat ictus cordis di ICS V midclavicula sinistra, tidak ada nyeri dada
 auskultasi
terdengar bunyi jantung I di ICS IV linea mid clavicula sinistra
terdengar bunyi jantung II di ICS II linea sternalis kanan (aorta)
ICS II linea sternalis kiri (pulmonal)
TD : 140/ 90 mmHg
N : 80 x/ menit regular
 perkusi
suara pekak pada jantung

3. Persyarafan (Brain)
Tingkat kesadaran klien compos mentis dengan GCS 4 – 5 – 6, reflek normal, koordinasi gerak baik, tidak ada kejang, klien merasakan pusing di bagian kepalanya skala nyeri : 6

4. Penginderaan
1. Mata
– Bentuk : Normal
– Pupil : Isokor
– Reflek cahaya : Positif
– Gerak bola mata : Normal
– Medan penglihatan : Klien mengalami gangguan penglihatan (pandangan mata kabur)
– Buta warna : Tidak
2. Hidung
– Bentuk : Normal
– Gangguan penciuman : Tidak
3. Telinga
– Bentuk : Normal dan simetris
– Membran timpani : Keruh
– Otorhea : Tidak
– Gangguan pendengaran : Tidak
– Tinitus : Tidak
4. Perasa (lidah) : Normal
5. Gigi klien mengalami gangguan dengan menonjol akan copot dan terasa nyeri
6. Peraba : Normal

5. Perkemihan (Blader)
– Masalah kandung kemih : Normal tidak ada masalah
– Produksi urine : ± 1000 cc/hari
– Warna : Kuning bau amoniak

6. Percernaan ( Bowl )
 Mulut dan tenggorokan
mulut selaput lendir lembab, tidak ada nyeri telan dan tak ada pembesaran kelenjar tyroid
 Abdomen
a. inspeksi
normal, bentuk simetris, umbilicus cekung
b. auskultasi
bising usus 6 – 8x/ menit
c. palpasi
tak ada nyeri tekan dan nyeri lepas, kembung -, asites -, tidak ada pembesaran hepar maupun lien
d. perkusi
terdengar bunyi tympani pada abdomen
 masalah usus besar dan rectum
tidak ada masalah usus besar yang menonjol
7. Otot, Tulang Dan Integumen (Bone)
1. Otot dan tulang
Kemampuan pergerakan sendi lengan dan tungkai bebas
Tidak ada fraktur, dislokasi, haematum, Kekuatan otot
Klien mengatakan terasa kesemutan dibagian kakinya
2. Integumen
– Warna kulit : Sawo matang, terdapat luka pada telapak kaki kiri dengan luka ± 2 cm dan masih basah, kotor dibiarkan terbuka dan tidak terbungkus
– Akral : Hangat
– Turgor : Elastik, kembali dalam < 1detik

8. Reproduksi
Jenis kelamin laki-laki, betuk norml, bersih

9. Endokrin
1. Faktor alergi : Klien tidak mempunyai alergi makanan atau minuman
2. Kelainan endokrin : Klien mempunyai kelainan endokrin dan klien sekarang menderita penyakit DM

XI. PENGKAJIAN PSIKOSOSAL
1. Interaksi Social
Klien dapat berinteraksi dengan baik dengan keluarga, masyarakat dan klien juga kooperatif sat ditanya tentang riwayat penyakitnya
2. Konsep Diri
Klien khawatir dengan penyakitnya, dia takut kalau penyakitnya ini tidak sembuh-sembuh dan tidak bisa merawat cucu-cucunya yang masih kecil. Dan klin sangat ingin sekali cepat sembuh.
3. Spiritual
klien bergama islam. Klien selalu taat menjalankan ibadahnya

XII. PEMERIKSAAN PENUNJANG
• Tes GDA: 374 mg/dl

XIII. TERAPI MEDIK
Dari puskesmas (16 januari 2006)
• Amoxilin 3 x 1 tablet/hari
• Asam Mefenamat 3 x 1 tablet/hari
• Dexamethason 3 x 0,5 mg/hari
• Glibenclamide 2 x 5 mg/hari
• Diazepam 2 x 2 mg/hari

Dari poli mata (17 Januari 2006)
• Neurodex 3 x 1 tablet/hari
• Natrium Diklofenak 3 x 1 tablet/hari

ANALISA DATA

Nama Pasien : Ny. S
Umur : 50 tahun

No. Dx Data Penunjang Masalah Etiologi
1.

2.

DS :
 Klien mengatakan pusing / pening dikepalanya
 Klien mengatakan kakinya terasa kesemutan
 Klien mengatakan penglihatannya agak kabur
 Klien mengatakan giginya terasa sakit
DO :
 K/U cukup
 Klien penglihatannya menurun
 Klien kelihatan meringis kesakitn skala nyeri 6
 TTV
TD : 140/90 mmHg
N : 80 x/mnt

DS :
 Klien mengatakan jarang berolahraga
 Klien mengatakan sering berjalan kaki jauh
 Klien mengatakan tidak tahu bagaimana cara berolahrga yang benar bagi penderita DM
DO :
 Klien berjalan kaki dari rumahnya ke puskesmas sejauh 3 km
Gangguan sensori perseptual

Kurang pengetahuan tentang latihan fisik pada penderita diabetes mellitus Ketidak seimbangan glukosa / insulin dalam darah

Kurang terpaparnya informasi

PRIORITAS MASALAH

1. Gangguan sensori perseptual b.d ketidak seimbangan insulin / glukosa dalam darah.
2. Kurangnya pengetahuan tentang latihan fisik pada penderita diabetes mellitus b.d kurang terpaparnya informasi.
RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN

Nama Pasien : Ny. S
Umur : 50 tahun
Tanggal NO. Dx Tujuan / Kriteria Hasil Rencana Tindakan Rasional
………..

1 Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x kunjungan rumah diharapkan gangguan sensori peserseptual tidak bertambah parah atau kembali pulih dengan kriteria hsil:
 Pusing kepala jadi hilang atau berkurang
 Mempertahankan tingkat mental seperti biasanya
 Penglihatan tidak menjadi kabur
 Kesemutan dapat hilang atau berkurang 3. Pantau tanda-tanda vital dan status mental
4. Anjurkan pada pasien untuk memelihara aktivitas rutin, dan melakukan kegiatan sesuai kemampuan
5. Evaluasi lapang pandang penglihatan sesuai dengan indikasi

6. anjurkan pada pasien untuk tidur di tempat tidur yang lembut
7. Anjurkan pada pasien untuk menghindari air panas / dingin

8. Bantu pasien dalam ambulansi atau perubahan posisi
9. Tes GDA 1. Untuk mengetahui status mental klien dan kelainan yang lain
2. Membantu pasien untuk tetap berhubungan dengn relitas

3. hemoragis, katarak atauy paralisis otot ekstra okuler sementara mengganggu penglihatan yang memerlukan terapi
4. Meningkatkan rasa nyaman kerusakan kulit karena panas
5. Munculnya dingin yang tiba-tiba pada tangan/kaki dapat mencerminkan adanya hipoglikemi
6. Meningkatkan keamanan klien terutama ketika rasa keseimbangan dipengaruhi
7. Mengetahui kadar gula dalam darah

RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN

Nama Pasien : Tn. S
Umur : 56 tahun

Tanggal NO. Dx Tujuan / Kriteria Hasil Rencana Tindakan Rasional
…….

1 1. Setelah dilakukan penyuluhan keperawatan selama 3x kunjungan rumah diharapkan klien menjadi mengerti bagaimana latihan fisik yang tepat bagi penderita DM. Dengan kriteria hasil :
 Klien mau melakukan latihan fisik
 Klien lebih memperhatikan kegiatan aktifitas seharinya
 Klien mengerti pentingnya latihan fisik bagi penderita DM 1. Membuka kegiatan penyuluhan
2. Mengkaji tingkat pengetahuan pasien dan keluarga

3. Mendiskusikan dengan pasien dan keluarga tentang:
a. Manfaat latihan fisik pada penderita DM
b. Kapan waktu yang tepat saat melakukan aktifitas fisik
c. Jenis latihan fisik pada penderita DM
d. Kemauan klien dalam melakukan latihan fisik
4. Mengobservasi respon keluarga dan pasien selama kegiatan

5. Menjelaskan ulang materi yang belum jelas.

6. Memberikanmengevaluasi sekaligus memberi kesempatan klien untuk melakukan latiha fisik
7. Memberikan pujian. 1. Memperkenalkan diri
2. mengetahui tingkat pengetahuan tentang luka
3. Agar klien mengerti dan memahami bagaimana latiha fisik yang tepat bagi penderita DM

4. Mengetahui tingkat keseriusan pasien dalam menerima penyuluhan
5. Klien bisa lebih mengerti tentang rawat luka
6. Menguatkan pengetahuan klien dan mengkaji tingkat kemampuan klien

IMPLEMENTASI

Nama Pasien : Ny. S
Umur : 50 tahun

Tanggal Jam No. Dx Implementasi Ttd.
……..

……..

09.00WIB
s/d
10.30WIB

09.00WIB
s/d
10.30WIB
I

II 1. Mengkaji keluhan klien
2. Mengukur tanda-tanda vital klien dan status mental
TD : 140 / 90 mmHg
N : 80 kali /mnt
Klien mengalami gangguan penglihatan
3. Menganjurkan pada pasien untuk memeriksakan matanya di poli mata
4. Membantu pasien dalam ambulansi atau perubahan posisi
5. Melakukan kontrak untuk pertemuan berikutnya

1. Mengkaji keluhan klien
2. Menganjurkan klien untuk tidak jalan kaki terlalu jauh
3. Mengantar klien pulang dari PKM ke rumah
4. Mengkaji seberapa sering klien jalan –jalan jauh
5. Melakukan kontrak untuk pertemuan berikutnya

………

………
16.00WIB
s/d
18.00WIB

16.00WIB
s/d
18.00WIB I

II 1. Mengkaji kadaan klien
2. Mengukur TTV
TD : 130 / 90 mmHg
N : 88 x/mnt
3. Menanyakan daerah mana yang terasa nyeri (kepala)
4. Menanyakan keluhan lain (pandangan kabur, kaki sering terasa kesemutan
5. Menganjurkan klien untuk banyak istirahat dan mengurangi aktifitas
6. Melakukan kontrak untuk pertemuan berikutnya

1. Menanyakan keadaan pasien
2. Mengkaji aktifitas apa saja yang diakukan selama seharian
3. Menganjurkan pada pasien untuk mengurangi aktifitas yang berat-berat
4. Melakukan kontrak untuk pertemuan berikutnya

………
11.00WIB
s/d
13.00 I 1. Memantau tanda-tanda vital dan status mental
TD : 160 / 100 mmHg
N : 84 x/mnt
Klien mengatakan masih terasa pusing dikepalanya dan pandangannya kabur
2. Menganjurkan pada pasien untuk memelihara aktivitas rutin, dan melakukan kegiatan sesuai kemampuan
3. Mengevaluasi lapang pandang penglihatan sesuai dengan indikasi
4. menganjurkan pada pasien untuk tidur di tempat tidur yang lembut
5. Menganjurkan pada pasien untuk menghindari air panas / dingin
6. Membantu pasien dalam ambulansi atau perubahan posisi
7. Tes Urine reduksi 437 mg/ul
…………
11.00WIB
s/d
13.00 II 1. Membuka kegiatan penyuluhan
2. Mengkaji tingkat pengetahuan pasien dan keluarga
3. Mendiskusikan dengan pasien dan keluarga tentang:
 Manfaat latihan fisik pada penderita DM
 Kapan waktu yang tepat saat melakukan aktifitas fisik
 Jenis latihan fisik pada penderita DM
 Kemauan klien dalam melakukan latihan fisik
4. Mengobservasi respon keluarga dan pasien selama kegiatan
5. Menjelaskan ulang materi yang belum jelas.
6. Memberikanmengevaluasi sekaligus memberi kesempatan klien untuk melakukan latiha fisik
7. Memberikan pujian.

EVALUASI

Nama Pasien : Tn. A
Umur : 56 Tahun

Tanggal No. Dx Evaluasi Ttd
……….

………

I

II S :
 Klien mengatakan pusing / pening dikepalanya
 Klien mengatakan kakinya terasa kesemutan
 Klien mengatakan penglihatannya sudah mulai agak terang
 Klien mengatakakn sakit giginya menurun
O :
 Klien penglihatannya menurun
 Skala nyeri : 6
 TTV
TD : 160/1000 mmHg N: 80 x/mnt
 Hasil GDA 437 mg/dl
A : Masalah belum teratasi
P : Intervensi dilanjutkan oleh keluarga Px

S :
 Klien mengatakan Akan rutin berolahraga pagi
 Klien mengatakan akan mengurangi kegiatan-kegiatan fisik yang berat
 Klien mengatakan akan latihan fisik sesuai jadwal
O :
 Ekspresi wajah klien tenang
 Klien kelkihatan senang telah diberikan penyluhan
A : Masalah teratasi
P : Intervensi dihentikan

 
Leave a comment

Posted by on July 26, 2013 in Artikel kesehatan

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: