RSS

ASKEP HIPERTENSI

26 Jul

LANDASAN TEORI 1. DEFINISI Hipertensi adalah tekanan darah sistolik >140mmHg dan tekanan diastolik >90 mmHg, atau bila pasien memakai obat antihepertensi. 2. ETIOLOGI Berdasarkan penyebabanya hipertensi dibagi menjadi dua golongan, yaitu: a. Hipertensi esensial atau hipertensi primer yang tidak diketahui penyebabnya, disebut juga hipertensi idiopatik. Terdaat sekitar 95% kasus. Banyak faktor yang mempengaruhi seperti genetika, lingkungan, hiperaktivitas susunan saraf simpatis, sistem renin-angiotensin, diefek dalam eksresi Na, peningkatan Na dan Ca intraseluler, dan faktor-faktor yang meningkatkan riiko, seperti obesitas, alkohol, merokok, serta polisitemia. b. Hipertensi sekunder atau hipertensi renal. Tedapat sekitar 5% kasus. Penyebab spesifiknya diketahui, seperti penggunaan estrogen, penyakit ginjal, hipertensi vaskular renal, hiperaldosteronisme primer, dan sindrom cushing, feokromositoma, koarktasio aorta, hipertensi yang berhubungan dengan kehamilan, dan lain-lain. 3. MANIFESTASI KLINIS Peningkatan tekanan darah kadang-kadang merupakan satu-satunya gejala. Bila demikian, gejala baru muncul setelah terjadi komplikasi pada ginjal, mata, otak, atau jantung. Gejala lain yang sering ditemukan adalah sakit kepala, epistaksis, marah telinga berdengung, rasa berat di tekuk, sukar tidur, mata berkunang-kunang, dan pusing. 4. PEMERIKSAAN PENUNJANG Pemeriksaan laboratorium rutin yang dilakukan sebelum memulai terapi bertujuan menentukan adanya kerusakan organ dan faktor resiko lain atau mencari penyebab hipertensi. Biasanya diperiksa urinalisa, darah perifer lengkap, kimia darah (kalium, natrium, kreatinin, gula darah puasa, kolestrol total, kolesrol HDL, dan EkG. Sebagai tambahan dapat dilakukan pemeriksaan lain, seperti klirens kreatinin, protein urin 24jam, asam urat, kolesterol LDL,TSH, dan ekokardiografi. 5. DIAGNOSIS Diagnosis hipertensi tidak dapat ditegakkan dalam satu kali pengukuran, hanya dapat ditetapkan setelah dua kali atau lebih pengukuran paa kunjungan yang berbeda. Kecuali terdapat kenaikkan yang tinggi atau gejal-gejala klinis. Pengukuran tekanan darah dilakukan dalam keadaan pasien duduk bersandar. Setelah beristirahat selama 5 menit, dengan ukuran pembungkus lengan yang sesuai (menutupi 80% lengan). Tensimeter dengan air raksa masih tetap dianggap alat ukur terbaik. Anamnesis yang dilakukan meliputi tingkat hipertensi dan lama menderitannya, riwayat dan gejala penyakit-penyakit yang berkaitan seperti penyakit jantung koroner, gagal jantung, penyakit serebrovaskular, dan lainnya. Apakah terdapat riwayat penyakit dalam keluarga. Gejala-gejala yang berkaitan dengan penyebab hipertensi, perubahan aktivitas/kebiasaan (seperti merokok), konsumsi makanan, riwayat obat-obatan bebas, hasil dan efek samping terapi antihipertensi sebelumnya bila ada, dan faktor psikososial lingkungan (keluarga, pekerjaan, dan sebagainya). Dalam pemeriksaan fisik dilakukan pengukuran tekanan darah dua kali atau lebih dengan jarak 2 menit, kemudian periksa ulang pada lengan kontralateral. Dikaji perbandingan berat badan dan tinggi pasien. Kemudian dilakukan pemeriksaan funduskopi untuk mengetahui adanya retinopati hipertensif, pemeriksaan leher untuk mencari bising karotid. Pembesaran vena, atau kelenjar tiroid. Dicari tanda-tanda gangguan irama dan denyut jantung, pembesaran ukuran, bising, derap, dan bunyi jantung ketiga atau empat. Paru diperiksa untuk mencari ronki dan bronkospasme. Pemeriksaan abdomen dilakukan untuk mencari adanya massa, pembesaran ginjal, dan pulsasi aorta yang abnormal. Pada ekstremitas dapat ditemukan pulsasi arteri perifer yang menghilang, edema, dan bising. Dilakukan juga pemeriksaan neurlogi. Perhimpunan Nefrologi Indonesia (pernefri) memilih klasifikasi sesuai WHO/ISH karena sederhana dan memenuhi kebutuhan, tidak bertentangan dengan strategi terapi, tidak meragukan karena memiliki sebaran luas dan tidak rumit, serta terdapat pula unsur sistolik yang juga penting dalam penentuan. Hipertensi sistolik terisolasi adalah hipertensi dengan tekanan sistolik sama atau lebih dari 160mmHg, terapi tekanan diastolik kurang dari 90mmHg. Keadaan ini berbahaya dan memiliki peranansama dengan hipertensi diastolik, sehingga harus terapi. Klasifikasi pengukuran tekanan darah berdasarkan The sixth Report of the join National Committee on Prevention. Detection, Evaluation, and Treatment of High Blood pressure.1997. 6. PENATALAKSANAAN Tujuan deteksi dan penatalaksanaan hipertensi adalah menurunkan risiko penyakit kardiovaskular dan mortalitas serta morbiditas yang berkaitan. Tujuan terapi adalah mencapai dan mempertahankan tekanan sistolik di bawah 140mmHg dan tekanan diastolik di bawah 90mmHg dan mengontrol faktor risiko. Hal ini dapat di capai melalui modifikasi gaya hidup saja, atau dengan oabt antihipertensi. Kelompok risiko dikategorikan menjadi: A. Pasien dengan tekanan darah perbatasan, atau tingkat 1,2 atau 3, tanpa gejala penyakit kardiovaskular, kerusakan organ, atau faktor risiko lainnya. Bila dengan modifikasi gaya hidup tekanan darah belum dapat diturunkan, maka harus diberikan obat antihipertensi. B. Pasien tanpa penyakit kardiovaskular atau kerusakan organ lainnya, tapi memilki satu atau lebih faktor risiko yang tertera diatas, namun bukan diabetes melitus. Jika terdapat beberapa faktor maka harus langsung diberikan diberikan obat antihipertensi. C. Pasien dengan gejala klinis penyakit kardiovaskular atau kerusakan organ yang jelas, faktor risiko: usia lebih dari 60 tahun, merokok, dislipiemia, diabetes melitus, jenis kelamin (pria dan wanita menopause), riwayat penyakit kardiovaskular dalam keluarga. Kerusakan organ atau penyakit kardiovaskular: penyakit jantung (Hipertrofi ventrikel kiri, infrak miokard, angina pektoris, gagal jantung, riwayat revaskularisasi koroner, strok, transient ischemic attack, nefropati, penyakit arteri perifer, dan retinopati. Modifikasi gaya hidup sangat efektif, dapat menurunkan risiko kardiovaskular dengan biaya sedikit, an risiko minimal. Tata laksana ini tetap dianjurkan meski harus disertai obat antihipertensi karena dapat menurunkan jumlah dan dosis berat. Langkah – langkah yang di anjurkan untuk: • Menurunkan berat badan bila terdapat kelebihan (indeks massa tubuh > 27). • Membatasi alkohol. • Meningkatkan aktivitas fisik aerobik (30-45 menit/hari). • Mengurangi asupan natrium (< 100 mmol Na/ 2,4g Na/6g NaCL/hari). • Mempertahankan asupan kalium yang adekuat (90 mmol/hari). • Mempertahankan asupan kalsium dan magnesium yang adekuat. • Berhenti merokok dan mengurangi asupan lemak jenuh dan kolesterol dalam makanan. Penatalaksanaan dengan obat antihipertensi bagi sebagian besar pasien dimulai dengan dosis rendah kemudian ditingkatkan secara titrasi sesuai dengan umur, kebutuhan, dan usia. Terapi yang optimal harus eektif selama 24 jam, dan lebih disukai dalam dosis tunggal karena kepatuhan lebih baik, lebih murah, dapat mengontrol hipertensi terus-menerus dan lancar, dan melindungi pasien terhadap berbagai risiko dari kematian mendadak, serangan jantung, atau strok akibat peningkatan tekanan darah mendadak saat bangun tidur. Sekarang terdapat pula obat yang berisi kombinasi dosis rendah dua obat dari golongan yang berbeda. Kombinasi ini terbukti dapat memberikan efektivitas tambahan dan mengurangi efek samping. Setelah diputuskan untuk memakai obat antihipertensi dan bila tidak terdapat indikasi untuk memilih golongan obat tertentu, diberikan deuretik atau beta bloker. Jika respon tidak baik dengan dosis penuh, dilanjutkan sesuai algoritma. Diuretik biasanya menjadi tambahan karena dapat meningkatkan efek obat yang lain. Jika tambahan obat kedua dapatmengontrol tekanan darah dengan baik minimal setelah 1 tahun, dapat dicoba menghentikan obat pertama melalui penurunan dosis secara berlahan dan progresif. Pada beberapa pasien mungkin dapat dimulai terai dengan lebih dari satu obat secara langsung. Pasien dengan tekanan darah > 200/>120 mmHg harus diberikan terapi dengan segera dan jika terdapat gejala kerusakan organ harus dirawat di rumah sakit. BAB II ASUHAN KEPERAWATAN PADA Ny. R DENGAN HIPERTENSI DI RUANG ……………… A. PENGKAJIAN 1. BIODATA a. Identitas Klien Nama : Ny. R Tempat, TGL lahir : Madiun, 24 Juli 1954 Umur : 73 th Jenis Kelamin : Perempuan Alamat : Jl. Pakel baru No. 42, Ponorogo Agama : Islam Suku : Jawa Pendidikan : SMA Dx. Medis : Hipertensi (Stage I) b. Identitas Penanggungjawab Nama : Tn. A Tempat, TGL lahir : Surabaya, 12 November 1975 Umur : 38 th Jenis Kelamin : Laki-laki Alamat : Jl. Pakel baru No. 42, Ponorogo Agama : Islam Hubungan dengan klien : Anak pasien 2. RIWAYAT KESEHATAN a. Keluhan utama : Klien mengatakan sakit kepala yang tak kunjung sembuh b. Riwayat Kesehatan Sekarang : Sejak 1 minggu ini klien merasa pusing dan punggungnya sering sakit saat bangun tidur, melihat keadaan yang tak kunjung sembuh akhirnya pada tgl 22 Agustus 2011 anak klien membawanya ke RS Harjono. c. Riwayat kesehatan Dahulu • Asma • Diare d. Riwayat Kesehatan Keluarga • Diabetes Melitus • Hipertensi e. Riwayat Kesehatan Lingkungan Klien tinggal di lingkungan padat industri. f. Genogram Ket: Perempuan Laki-laki 3. POLA FUNGSI KESEHATAN (GORDON) a. Pola persepsi pemerliharaan kesehatan Sebelum sakit : klien mengatakan sering mengkonsumsi makanan yang siap saji dan malas berolahraga. Setelah sakit : Klien mengatakan mulai mengurangi makanan siap saji. b. Pola aktivitas latihan Pada pola aktivitas latihan (mandi, berpakaian, elimminasi, mobilisasi, makan) pada klien terdapat gangguan sesuai dengan berat ringannya penyakit mulai dari mandiri sampai dibantu secara total. Aktivitas 0 1 2 3 4 Mandi √ Berpakaian √ Eliminasi √ Mobilisasi √ Ambulansi √ Makan √ Keterangan : 0 : Mandiri 1 : Butuh alat bantu 2 : Butuh bantuan orang lain 3 : Butuh bantuan orang lain dan alat bantu 4 : Bantuan total c. Pola Istirahat Tidur Klien sering terbangun akibat sakit kepalanya. d. Pola nutrisi metabolik Nafsu makan klien hilang, sering mual dan muntah ketika mulai makan. e. Pola eliminasi Klien sulit BAK dan BAB (konstipasi). f. Pola kognitif perseptual Klien selama sakit mengalami gangguan pembicaraan, gangguan penglihatan dan sering gelisah. g. Pola konsep Diri • Harga Diri : Harga diri klien tidak terganggu • Ideal Diri : Ideal diri klien tidak terganggu • Identitas diri : Identitas diri klien tidak terganggu • Gambaran diri : Gambaran diri klien tidak terganggu • Peran diri : Terganggu, Akibat sakitnya klien tidak bisa jualan di pasar. h. Pola koping Klien ingin segera sembuh, agar bisa beraktivitas seperti biasa. i. Pola sexsual reproduksi Klien tidak mengalami gangguan pada organ reproduksinya. j. Pola peran hubungan Hubungan klien dengan keluarga, masyarakat, dan lingkungan sangat baik. k. Pola nilai dan kepercayaan Selama sakit klien tidak bisa beribadah (sholat). 4. PEMERIKSAAN FISIK a. Tanda-tanda vital: • Suhu klien 37,5 °C • Nadi klien 82 x/mnt • TD : 140/110 mmHg • Pernafasan klien 22 x/mnt • Tinggi Badan klien 155,5 cm • Berat Badan klien 67 kg b. Keadaan Umum : • Kesadaran klien tergantung dari berat ringannya penyakit, dari composmentis sampai koma. Namun kini klien dalam keadaan sadar. • Ekspresi wajah klien pucat dan tampak gelisah. • Klien obesitas. • Terjadi gangguan penglihatan dan detak jantung yang cepat. c. Kulit, rambut dan kuku • Inspeksi ● Palpasi -Kulit pasien tampak pucat -Teraba panas terutama bagian kepala -Rambut terlihat kusut dan kotor -Kuku tampak panjang dan kotor d. Kepala • Inspeksi -Tidak ada lesi pada kepala. e. Mata • Konjungtiva terlihat pucat • Terdapat ketosis pada kelopak mata f. Mulut • Inspeksi -Mukosa bibir yang kering -Bibir klien terlihat pucat (sianosis) -Gigi klien tampak kotor g. Telinga  Inspeksi – Bentuk simetris – Tidak ada perdarahan i. Abdomen • Inspeksi Bentuk abdomen normal dan simetris. • Auskultasi Berkurangnya bising usus, karena frekuensi makan yang kurang akibat sering muntah. j. Musculoskeletal • Inspeksi – Pergerakan ROM terbatas • Palpasi – Nyeri tekan pada siku kanan dan kiri k. Dada  Palpasi Diraba terasa keras  Perkusi Terasa keras  Inspeksi – Kulit agak memerah – Bentuk simetris l. Paru-paru  Auskultasi Tidak terdapat bunyi ronchi  Inspeksi Bentuk dada simetris m. Jantung  Auskultasi Detak jantung terdengar kuat dan cepat. 5. PEMERIKSAAN PENUNJANG • Mengukur vital sign klien dengan Termometer, Stetoskop, Tensimeter serta alat bantu lain. DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. DATA FOKUS A. Data Subyektif : • Klien mengeluh merasa pusing dan lemah • Klien mengatakan bahwa dia sulit bernafas • Klien mengeluh susah tidur akibat nyeri pada kepala • Klien mengatakan punggungnya sering terasa sakit saat bangun tidur. • Klien mengeluh sulit BAB B. Data Obyektif : • Area konjungtiva pucat • Tampak adanya ketosis pada kelopak mata. • Gigi tampak kotor • Mukaosa bibir kering • Tekanan darah 140/110 mmHg • Respirasi 22 x/menit • Nadi 82 x/menit • Suhu 37,5 °C • Perifer dingin • Mata tampak sayu • Klien tampak pucat, gelisah, merintih • Obesitas • Intake makanan berlebih menjelang malam 2. ANALISA DATA NO SYMPTON PROBLEM ETIOLOGI 1. 2. 3. DS :  Klien mengeluh merasa pusing dan lemah  Klien mengatakan bahwa dia sulit bernafas DO :  TD 140/110 mmHg  Perifer dingin DS :  Klien mengeluh pusing dan lemah  Klien mengeluh sulit tidur akibat nyeri pada kepala DO :  Mata tampak sayu  Gelisah  Merintih Ds : Klien mengatakan sulit tidur dan sering terbangun Do :  Insomnia  Tidur sering terganggu karena sakit kepala  Penurunan kemampuan fungsi  Emosi labil. Penurunan curah jantung Nyeri akut Gangguan pola tidur Peningkatan tekanan darah Peningkatan tekanan vaskuler serebral Stres Psikologi PRIORITAS MASALAH 1. Nyeri akut berhubungan dengan peningkatan tekanan vaskuler serebral 2. Penurunan curah jantung berhubungan dengan peningkatan tekanan darah. 3. Gangguan pola tidur berhubungan dengan stress psikologis RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN Nama Pasien : Ny. R Umur : 73 tahun Tanggal NO. Dx Tujuan / Kriteria Hasil Rencana Tindakan Rasional ……….. 1 Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama …x24 jam curah jantung lebih efektif dengan kriteria hasil:  Curah jantung normal  Sirkulasi lancar  Vital sign normal  Monitor status kardiovaskuler  Monitor adanya peningkatan tekanan darah  Monitor adanya dyspnea, fatigue, takipnea, dan ortopnea  Anjurkan untuk menurunkan stress  Untuk mengetahui kemampuan fungsi jantung  Tekanan darah dapat mempengaruhi peningkatan kerja otot jantung  Untuk mengetahui perubahan kemampuan fungsi jantung  Mengurangi kerja otot yang berlebih RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN Nama Pasien : Tn. R Umur : 73 tahun Tanggal NO. Dx Tujuan / Kriteria Hasil Rencana Tindakan Rasional ……. 2 Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama …x24 jam nyeri dapat berkurang/hilang dengan kriteria hasil :  Skala nyeri berkurang  Vital sign dalam rentang normal  Klien merasa nyaman  Kaji secara komprehensif tentang nyeri meliputi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan factor presipitasi  Kaji kultur yang mempengaruhi respon nyeri  Tingkatkan istirahat pada klien  Un tuk mengetahui tipe-tipe nyeri dan cara mengatasinya  Untuk mengetahui penyebab dari nyeri  Untuk member rasa nyaman pada klien RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN Nama Pasien : Tn. R Umur : 73 tahun Tanggal NO. Dx Tujuan / Kriteria Hasil Rencana Tindakan Rasional ……. 3 Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama …x24 jam pola tidur dapat membaik dengan kriteria hasil : – pola tidur klien normal – insomnia berkurang – keseimbangan optimal dari istirahat dan aktivitas – Kurangi kebisingan – Batasi masukan minuman yang mengandung kafein pada sore hari – Pertahankan waktu tidur teratur dan waktu bangun – Kaji penyebab gangguan pola tidur – agar klien dapat tidur dengan tenang dan nyaman tanpa gangguan – agar istirahat dan aktivitas dapat seimbang – untuk menentukan teknik yang dilakukan agar pola tidur klien membaik IMPLEMENTASI Nama Pasien : Ny. R Umur : 73 tahun Tanggal Jam No. Dx Implementasi Ttd. …….. …….. 09.00WIB s/d 10.30WIB 09.00WIB s/d 10.30WIB 09.00WIB s/d 10.30WIB I II III  Memonitor status kardiovaskuler  Memonitor adanya peningkatan tekanan darah  Memonitor adanya dyspnea, fatigue, takipnea, dan ortopnea  Menganjurkan klien untuk menurunkan stress  Mengkaji secara komprehensif tentang nyeri meliputi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan factor presipitasi  Mengkaji kultur yang mempengaruhi respon nyeri  Meningkatkan waktu istirahat klien – Mengurangi kebisingan – Membatasi masukan minuman yang mengandung kafein pada sore hari – Mempertahankan waktu tidur teratur dan waktu bangun – Mengkaji penyebab gangguan pola tidur ……… ……… 16.00WIB s/d 18.00WIB 16.00WIB s/d 18.00WIB 16.00WIB s/d 18.00WIB I II III  Memonitor status kardiovaskuler  Memonitor adanya peningkatan tekanan darah  Memonitor adanya dyspnea, fatigue, takipnea, dan ortopnea  Menganjurkan klien untuk menurunkan stress  Mengkaji secara komprehensif tentang nyeri meliputi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan factor presipitasi  Mengkaji kultur yang mempengaruhi respon nyeri  Meningkatkan waktu istirahat klien – Mengurangi kebisingan – Membatasi masukan minuman yang mengandung kafein pada sore hari – Mempertahankan waktu tidur teratur dan waktu bangun – Mengkaji penyebab gangguan pola tidur EVALUASI Nama Pasien : Ny. R Umur : 73 Tahun Tanggal No. Dx Evaluasi Ttd ………. ………. ……… I II III S :  Klien mengatakan nyeri sudah berkurang O :  Klien penglihatannya menurun  Skala nyeri : 4 A : Masalah belum teratasi P : Intervensi dilanjutkan oleh keluarga Px S :  Klien mengatakan lebih nyaman dalam bernafas  Klien mengatakan akan latihan fisik sesuai jadwal O :  Ekspresi wajah klien tenang  TD : 140/110 mmhg A : Masalah teratasi P : Intervensi dihentikan S :  Klien mengatakan lebih bisa tidur lebih awal dari sebelumnya. O :  Klien tampak fresh  Emosi lebih stabil. A : Masalah teratasi sebagian P : Intervensi dilanjutkan DAFTAR PUSTAKA National Center for Health Statistics. National Institutes of Health: Public Health Service, 1990. Hodge. Change in causes of death in treated hypertension: Am Heart J 1967; 73: 441. 30. Lechner H, Bertha G. Transient ischaemic attacks. In: Meier-Ruge (ed). Vascular brain disease in old age. Basel, Karger, 1990, pp 97-133. Djoenaidi W. Patofisiologi iskemia dan infark otak. Simposium Tata laksana/pengobatan gangguan pembuluh darah otak & metabolisme sel otak. Surabaya, 14 Januari, 1984. Powers WJ. Acute hypertension after stroke. Neurology 1993; 43: 461-7.

 
Leave a comment

Posted by on July 26, 2013 in Artikel kesehatan

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: